close
No account yet? Register
LOGIN

Search Property


Price
-  Rp.

Who's Online

We have 6 guests online
Peduli Lingkungan atau Ditinggalkan Konsumen PDF Print E-mail
Liputan Khusus:
Melirik Tema Ramah Lingkungan
Peduli Lingkungan atau Ditinggalkan Konsumen


Seorang direktur utama sebuah perusahaan properti menuturkan dengan bangga bahwa kini terjadi fenomena pasar yang menarik. Sejumlah warga yang berdomisili di kawasan dekat pantai memilih pindah ke kawasan yang minimal berjarak sepuluh kilometer dari pantai.

Pertimbangannya sangat kritis, mereka menghindari luapan air, terutama air pasang. Bayangkan saja, kata dirut itu, tatkala matahari tengah asyik memanggang DKI Jakarta, tahu-tahu perumahan mereka diterjang air pasang. Ini baru air pasang, kalau hujan lebat yang menghampiri, mereka pasti akan panik.

"Rumah dengan harga minimal tiga setengah miliar rupiah mereka beli dengan tenang, tanpa berkedip. Kata mereka uang bisa dicari, tetapi keamanan dan kenyamanan sulit dibeli," ujar eksekutif properti tersebut hari Rabu (5/12).

Kenyataan tersebut sekali lagi menunjukkan bahwa masalah lingkungan mutlak diperhatikan sepenuhnya. Kalau pengembang ingin proyeknya laku, jika ingin proyeknya dibeli dengan harga layak, ia mesti memerhatikan aspek lingkungan ini sepenuh-penuhnya. Ia harus ikhlas menyediakan areal untuk hutan penahan air, kawasan penampung air hujan, pengolah limbah, dan membangun sistem pengelolaan air yang canggih di kawasan dataran rendah jika perlu. Apabila ini tidak dikerjakan, hukum pasar yang berbicara. Pembeli akan mencari perumahan yang jelas menawarkan kenyamanan, tidak banjir, akses gampang, lingkungan bersih, dan sebagainya.

Ringkasnya, kalau sampai ada pengembang yang berani membangun di kawasan pantai, dan di dataran rendah pula, ia mestinya sudah berhitung berapa anggaran yang mesti dikeluarkan untuk mengamankan kawasan yang dibangunnya. Kawasan itu harus serba ramah lingkungan, bebas banjir, ada hutan penyerap air, ada tanggul, dan sistem pengelolaan air hujan dan pasang. Belanda, yang sebagian daratannya lebih rendah dari laut, tidak menderita banjir karena disiplin menggunakan sistem penanganan air.

Sebuah perumahan mewah di kawasan pantai DKI Jakarta sudah menggunakan sistem penanganan air yang mirip-mirip Kerajaan Belanda. Ada sistem yang membuat daratan seperti mengapung di atas air, ada pula pintu air, pompa air, dan penjagaan keseimbangan antara air dan daratan.

Perumahan ini tidak kebanjiran, tetapi ongkosnya memang besar. Ia tidak cukup membangun sistem pengelolaan air (yang pasti mahal), tetapi menyediakan anggaran cukup untuk menjaga agar sistem penanganan air itu tetap berjalan optimal setiap hari. Akan tetapi, ini mestinya tidak menjadi masalah seandainya pengembang yang bersangkutan sudah melakukan perhitungan dan studi kelayakan proyek. Artinya, harga jual rumah serta daya serap pasar sudah diperhitungkan dengan anggaran yang dikeluarkan.

Tidak bisa dihindari

Hari-hari ini tengah berlangsung konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC), 3-14 Desember, di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali. Konferensi yang diikuti 67 negara ini mempunyai banyak pesan, dua di antaranya menyelamatkan bumi dengan membangun kesadaran lingkungan dan mencegah kerusakan lingkungan lebih parah. Dua aspek itu amat penting sebab pemanasan global yang dipaparkan mantan Presiden Amerika Serikat Al Gore sangat mengerikan. Suhu meningkat, permukaan air laut akan naik secara bertahap, seiring dengan mencairnya es di kutub dan di sejumlah negara yang mempunyai tradisi salju abadi. Kalau air laut naik tujuh meter saja, seperti apa wajah Jakarta? Siapkah kita menghadapi hal demikian buruk? Air naik dua meter saja, kota ini sudah mampat di semua lini.

Kontribusi yang dapat kita berikan adalah tidak membuat lingkungan makin rusak, tidak terus merambah kawasan resapan air, tidak membabat hutan, tidak merusak sungai, tidak menutup semua tanah dengan beton, tidak menambah polusi udara dan sebagainya. Kontribusi ini, untuk sebagian, bisa dilakukan oleh warga dan sebagian lagi pengembang.

Warga mestinya lebih arif, misalnya menanam pohon di pekarangan rumah, membangun sumur resapan (jika memungkinkan), tidak memaksa AC sejuk sampai 20 derajat, hemat energi, dan sebagainya.

Pengembang sebaiknya konsisten membangun sistem penanganan air hujan, membangun sentra resapan air, mengolah limbah dan sampah padat, membangun hutan dalam kompleks perumahan, dan sebagainya. Jika mungkin, membangun sistem penanganan air di kawasan dataran rendah.

Pengembang tidak mempunyai pilihan lain, mesti menjadikan isu lingkungan sebagai tema besar perusahaan. Pengembang mesti mengeluarkan anggaran cukup besar untuk memenuhi aspek ini. Mengabaikan lingkungan, Anda akan ditinggalkan konsumen, bahkan dikutuk warga. Gejalanya kini sudah mulai tampak. Warga kaya yang berdomisili di perumahan elite, tetapi rawan banjir dan macet, sudah "keluar" dari kawasan itu.

Kompas, 7/12/2007
 
Next >