| Panduan negoisasi dengan KPR Bank |
|
|
|
|
Belajar dari pengalaman kami membeli rumah second lewat KPR, kami menyadari betul bahwa bank sebenarnya memiliki kesamaan dengan tukang sayur di pasar. Bank manapun pasti menyadari betul faktor negoisasi dalam setiap proses analisa kreditnya. Ambil contoh ketika kami apply KPR, banyak sekali persyaratan bank yang tidak bisa kami penuhi. Mulai status kerja, lama kerja, besaran cicilan, hingga appraisal rumah. Namun kami tidak berhenti sampai disitu, tapi yang kami lakukan mulanya adalah membandingkan dengan program KPR di bank lain, memahami sistem kerja di setiap bank yang ternyata berbeda-beda, mulai dari hitungan appraisal sampai analisa kredit. Hingga mencari insider info siapa bos siapa dan bagaimana profil officer yang kita hadapi. 1. Jangan terlalu polos! Aturan pertama dalam negoisasi adalah jangan membuka diri anda terlalu banyak. Pertama kali kami mengajukan KPR kami membuka diri dengan menyebutkan secara detail fluktuasi gaji kami -auditor mengenal busy dan low season hingga gaji pun berfluktuasi- kami pun menjelaskan status kami yang masih kontrak, yang belum genap 2 tahun dan segala penjelasan pesimis lainnya. Akibatnya sang CS pun seperti enggan menanggapi kami. Belajar dari itu, kami pun mengubah gaya negoisasi kami. Berhenti polos, dan mulai berhati-hati dengan siapa yang kami hadapi. Walhasil, selang 1 bulan-an. CS disebuah bank itu sudah lupa tentang kami dan akhirnya aplikasi bisa dimasukkan dengan data yang baru. 2. Kita pada dasarnya adalah pembeli Ya, posisi kita sebenarnya yang tokoh kunci. Alternatif KPR tidak hanya di satu bank, tapi ada banyak bank lain yang siap membantu anda. Contoh tentang cicilan. Teorinya cicilan KPR adalah 1/3 gaji. Tapi coba bayangkan bila total income kita dengan istri 10 juta rupiah, namun living cost kita berdua hanya 2 juta rupiah (asumsi tinggal dirumah orang tua, sudah punya kendaraan, tidak ada kredit card dan cicilan lain). Tentunya pihak bank bisa memberi limit cicilan sebesar 50% dari penghasilan. Ini adalah sedikit teori negoisasi dengan pihak bank. 3. Kalau anda tidak yakin bagaimana pihak bank Seorang teman saya tidak yakin bahwa bank akan mengaprove KPR-nya. “Takut Njar, bisa gak ya kalau aku minta plafon 400 jutaâ€. Kalau saya jadi bank -yang umumnya konservatif- tentulah saya tidak akan menyalurkan KPR kepada anda. Gampang saja, lha wong calon consumernya tidak yakin dia bisa mencicil atau tidak. Seharusnya calon nasabah sangat yakin bahwa dia bisa mencicil, dengan begitu bank bisa melihat keseriusan kita. Jangan pikirkan lain-lain dulu. Jika kita melihat sebuah rumah, taruhlah harga 200 juta, kemudian setelah kita bandingkan sana-sini kita merasa mampu membeli rumah tersebut. Jangan sampai masalah KPR -yang sepele- menjadi hambatan besar buat anda. Kata disney, if you dream it you can have it kan. Selamat mencari rumah. Sumber : priandoyo April 3rd, 2007 |
| < Prev | Next > |
|---|














